Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia/Guru Besar IPB

Puasa Ramadhan pada dasarnya tidak berubah sejak diwajibkannya kepada umat Islam, yakni untuk mencapai ketakwaan (Al Baqarah 183). Tetapi ada kebiasaan yang berbeda di bulan puasa tahun ini, yakni kita berada dalam situasi #stayathome alias tidak boleh kemana-mana, jaga jarak fisik, dan menghindari kerumunan (social distancing).

Wabah Covid-19 ini telah banyak mengubah kebiasaan yang umumnya dilakukan masyarakat. Kegiatan ibadah seperti tarawih berjamaah harus dilakukan di rumah. Intinya, menghindari mudharat lebih baik daripada mencari manfaat. Tentu, bukan ibadahnya yang dilarang, tetapi berjamaah di tempat beribadah (mesjid, mushola) yang tidak diperbolehkan.

Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa perang yang paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. Pernyataan ini sangat mendasar. Karena persoalan-persoalan di muka bumi ini bermula dari hawa nafsu seseorang yang mengakumulasi jadi hawa nafsu bersama (collective ego) di masyarakat. Muncullah perselisihan antarwarga, peperangan antarnegara, dan luapan hawa nafsu lainnya dalam skala besar.

Di skala individu hawa nafsu itu bisa berupa keserakahan, kedudukan, kekayaan, iri dengki, amarah, benci, dan sifat-sifat yang dikendalikan oleh egoisme. Hawa nafsu ini bekerjasama dengan otak awalnya secara tidak sadar yang lama-lama secara sadar. Otak kita menjustifikasi seolah-olah apa yang diinginkan oleh hawa nafsu itu adalah benar atau setidaknya wajar. Tidak disadari bahwa kebiasaan yang dikendalikan oleh hawa nafsu itu sebenarnya destruktif, merusak diri dan tatanan masyarakat.

Puasa sebagai upaya mencapai ketakwaan itu merupakan sarana untuk melatih hawa nafsu agar lurus kembali ke fitrah atau kesucian manusia. Secara fisik kita sadar tidak diperbolehkan makan dan minum di siang hari. Di sini kita dilatih untuk tidak berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Hal ini sebaiknya diteruskan di waktu malam di mana makan dan minum sudah diperbolehkan lagi.

Pada saat puasa inilah kita harus benar-benar menjalankan latihan kedisiplinan secara sukarela. Kedisiplinan mengarahkan hati dan pikiran jangan sampai dikuasai oleh hawa nafsu. Latihan kedisiplinan ini dibantu oleh wabah Covid-19, sehingga kita bisa benar-benar tinggal di rumah untuk banyak merenung. Jadi, ibadah puasa harus dilakukan dengan niat tulus. Jangan sampai kita merasa terbebani yang justru menyebabkan turunnya daya imunitas. Bila imunitas kita berkurang, tidak mustahil virus bisa merajalela.

Covid-19 juga telah mengajari kita PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Bersamaan dengan latihan mengatur hawa nafsu, kita harus cuci tangan sebelum buka puasa. Jangan mau dikendalikan oleh hawa nafsu dengan dalih lapar dan makanan sudah tersedia, kita langsung menyantap tanpa cuci tangan. Memang ini pekerjaan kecil, tetapi efeknya bisa fatal. Tentu kebiasaan PHBS ini harus kita lakukan selamanya, ada atau tidak ada covid19. Dan, bila kita meresapi saat cuci tangan, ini pun bagian tambahan ibadah di bulan Ramadhan.

Seperti yang kita ketahui bahwa semua kegiatan yang baik di bulan suci ini dilipatgandakan pahalanya. Maknanya adalah menikmati proses sekecil apapun. Cuci tangan, duduk-duduk, baca-baca, menulis, berjemur, dan PHBS yang dilakukan dengan penuh kesadaran itu adalah ibadah. Sehingga perbuatan sekecil apapun akan memberi manfaat untuk kesehatan rohani dan jasmani. Semuanya adalah ibadah yang pada ujungnya akan mengerem hawa nafsu dan mencapai ketakwaan. Inilah hakekat puasa. Semoga kita semuanya mendapat keberkahan Ramadhan dan semoga wabah Covid-19 segera berlalu. (ysw)

Sumber

SINDONEWS.com